Penyerahan kenang-kenangan dari BGTK Papua kepada Kepala Sekolah Adat Provinsi Papua

Sentani (20/1) – Tim Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Papua bersama Balai Pengembangan dan Pelindungan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) Provinsi Papua melaksanakan kunjungan ke Sekolah Adat Negeri Papua.

Kunjungan tersebut dilaksanakan di Sekolah yang beralamat di Kampung Hobong, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. Sekolah ini berada di tengah Danau Sentani, sehingga untuk mencapai lokasi, tim harus menunggu perahu penyeberangan yang menjadi satu-satunya akses menuju sekolah. Hamparan danau yang tenang dengan latar gedung sederhana sekolah mencerminkan kekayaan alam dan budaya Papua yang masih terjaga dan menjadi bagian penting dari pembelajaran adat lokal.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala BGTK Papua, Fakurohmah, bersama Kepala BP3OKP Provinsi Papua, Pdt. Albert Yoku, serta diikuti oleh seluruh pejabat fungsional BGTK Papua yang terdiri dari widyaiswara dan Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP). Kedatangan tim disambut oleh pengelola, guru, dan Masyarakat adat yang menempati lokasi tersebut. Keramahan mereka terpancar jelas dari senyum dan sapaan ramah yang diberikan.

Foto bersama Kepala BGTK Papua, Kepala BP3OKP Provinsi Papua, kepala Sekolah Adat papua dan Kepala Suku Sentani Timur

Sekolah Adat Negeri Papua merupakan lembaga pendidikan nonformal yang didirikan sebagai wadah untuk melestarikan nilai-nilai adat dan budaya lokal Papua. Lembaga ini bertujuan mewujudkan generasi yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan berjati diri, mandiri, dan berdaya saing dengan pembelajaran yang menekankan pada kearifan lokal serta keterampilan kehidupan masyarakat adat sesuai visi dan misi sekolah.

Kunjungan bertujuan untuk melihat secara langsung aktivitas pembelajaran serta berdiskusi mengenai pengelolaan sekolah adat. Sekolah adat dinilai sebagai wadah strategis dalam mengenalkan nilai-nilai adat dan budaya Papua kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh kemajuan zaman.

Tim BGTK dan BP3OKP mendapatkan kenangan berupa modul/bahan ajar berabahasa daerah

Di lokasi, tim BGTK Papua melakukan diskusi bersama kepala sekolah dan para guru. Salah satu permasalahan yang terungkap adalah tantangan dalam mengintegrasikan kurikulum berbasis adat ke dalam kurikulum nasional, sehingga diperlukan pendampingan dan penguatan kapasitas pendidik.

Melalui kegiatan ini, BGTK Papua kian menegaskan komitmennya dalam mendukung pendidikan yang berakar pada kearifan lokal.Setelah sebelumnyamengembangkan kurikulum Noken untuk Semua (NUSA). Hal ini sekaligus mendorong pelestarian budaya Papua melalui penguatan peran guru dan satuan pendidikan adat.

(Amy / Tam)