Jayapura (15/1) – Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Papua melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Instrumen Kebutuhan Pelatihan Guru Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) serta Guru Asli Papua. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya awal dalam merancang program pelatihan guru yang kontekstual, relevan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Papua.

FGD secara resmi dibuka oleh Kepala BGTK Provinsi Papua, Fatkurohmah, S.Pd.,M.Pd. dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal yang strategis dalam penyusunan program pelatihan khusus bagi guru yang bertugas di wilayah 3T dan guru asli Papua. Menurutnya, penyusunan instrumen kebutuhan pelatihan harus berangkat dari kondisi nyata dan tantangan yang dihadapi guru di lapangan, sehingga program yang dihasilkan benar-benar tepat sasaran.

Fatkurohmah juga menekankan pentingnya peran guru dalam peningkatan kualitas pendidikan dan pembangunan SDM Papua. Oleh karena itu, ia berharap para guru dapat memberikan masukan yang positif, objektif, dan konstruktif dalam proses penyusunan instrumen kebutuhan pelatihan, sebagai dasar perencanaan program pelatihan guru 3T dan guru asli Papua di masa mendatang.

Dalam pelaksanaan FGD, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok diskusi untuk membahas kebutuhan pengisian instrumen awal. Setiap kelompok secara khusus mendiskusikan program-program prioritas pelatihan yang paling dibutuhkan oleh guru, sesuai dengan jenjang pendidikan, karakteristik wilayah, serta tantangan pembelajaran yang dihadapi di sekolah masing-masing. Diskusi berlangsung aktif dan partisipatif, dengan menampung berbagai pengalaman dan pandangan peserta.

FGD ini diikuti oleh perwakilan guru asli Papua dari jenjang PAUD, SD, SMP, dan SMA, serta tenaga fungsional di lingkungan BGTK Provinsi Papua. Keterlibatan lintas jenjang dan unsur ini diharapkan dapat memperkaya perspektif dalam penyusunan instrumen kebutuhan pelatihan, sehingga program yang dirancang mampu mendukung peningkatan kompetensi guru dan berdampak pada mutu pendidikan di wilayah 3T dan Papua secara berkelanjutan.

(Roni)